Coba renungkan ayat yang terdapat dalam surat al Fatihah ayat yang ke-empat, “Maaliki yaumid din” (Yang menguasai hari pembalasan), dalam qira’at lain, “Maalik” dibaca pendek dengan “Malik”.

Apabila kita padukan antara “Maaliki dengan Maliki”, keduanya mengandung makna yang mengadakan. “Malik”, lebih dalam maknanya daripada “Maalik” dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya. Karena raja (di dunia) terkadang hanya “label” saja tanpa ada kekuasaan untuk berbuat yang dia kehendaki. Artinya dia tak memiliki kekuatan apapun untuk mengatur urusan apapun. Maka pada saat itu ia menjadi raja, tetapi bukanlah raja yang sesungguhnya. Maka jika Allah adalah “Maalik” dan “Malik”, maka sempurnalah Dia sebagai Penguasa, dan Pengatur urusan (makhluk-Nya). (syarh arkanil iman, syekh Muhammad bin Shalih Al Utaimin)

Written by Indonesia Bertauhid