Sepakat Ulama Tentang di mana Allah

0
70

SEPAKAT ULAMA TENTANG DI MANA ALLAH

Barangkali ada yang bertanya, di mana Allah? Allah di atas sana, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya.

Jawaban di atas menjadi kata sepakat ulama.

Para ulama telah sepakat bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Allah berada di ketinggian di atas langit sana, bukan berada di muka bumi. Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bukan di mana-mana.

Berikut kami buktikan keyakinan di atas berdasarkan kata sepakat para ulama.

1. Kata Ijma’ Ulama

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa‘id bin ‘Amir adh-Dhuba‘i bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah.

Beliau berkata,

الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

“Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun”.

(lihat al-‘Uluw li al-‘Aliyyi al- Ghaffar, Hal. 157 dan Mukhtashar al-‘Uluw, Hal. 168)

2. Sepakat Ulama Madzhab

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‘i dan Imam Ahmad semuanya bersepakat bahwa Allah menetap tinggi di atas seluruh makhluk-Nya.

Imam Abu Hanifah mengatakan dalam Fiqh al-Akbar,

مَنْ اَنْكَرَ اَنَّ اللهَ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ فَقَدْ كَفَرَ

“Barang siapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir”.

(lihat Itsbatu Shifat al-‘Uluw, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Hal. 116-117)

Imam Malik bin Anas mengatakan,

اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ

“Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya”.

(lihat al-‘Uluw li al-‘Aliyyi al- Ghaffar, Hal. 138)

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya at-Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata,

“Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata :

“Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah ta‘ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”.

(QS. Thaha [20]: 5)

Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?”.

Dikatakan,

“Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam”.

Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,

الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ

“Hakikat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakikat) istiwa’ adalah bid‘ah. Aku khawatir Engkau termasuk orang sesat”.

Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar.

(lihat al-‘Uluw li al-‘Aliyyi al-Ghaffar, Hal. 378)

Inilah perkataan yang shahih dari Imam Malik. Perkataan beliau sama dengan rabi‘ah yang pernah kami sebutkan. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah.

Imam Syafi‘i berkata,

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

“Perkataan dalam as-Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya :

“Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Lalu Imam asy-Syafi‘i mengatakan,

“Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah ta‘ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya”.

Kemudian beliau -rahimahullah- menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqad) lainnya.

(lihat Itsbatu Shifat al-‘Uluw, Hal. 123-124)

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya,

“Apa makna firman Allah,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada”.

(QS. al-Hadid [57]: 4)

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya”.

(QS. al-Mujadilah [58]: 7)

Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi”.

Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa al-Ghadadi, beliau berkata,

قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش ولايخلو منه مكان

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan,

“Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?”.

Imam Ahmad pun menjawab,

“Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya”.

(lihat Itsbatu Shifat al-‘Uluw, Hal. 116)

3. Didukung oleh 1000 Dalil

Ahmad bin Abdul Halim al-Harani (yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) berkata,

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ ”أَلْفُ دَلِيلٍ“ أَوْ أَزْيَدُ : تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ ”ثَلَاثُمِائَةِ“ دَلِيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

“Sebagian ulama besar Syafi‘iyah mengatakan bahwa dalam al-Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini”.

(lihat Majmu‘ah al-Fatawa [5/121])

Yang namanya ijma’ atau kata sepakat ulama seperti yang kami nukilkan sudah menjadi dalil kuat bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, menetap tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Siapa yang menyelisihi akidah ini, dialah yang keliru.

Karena disebutkan dalam hadits,

إِنَّ أُمَّتِى لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ

“Sesungguhnya umatku tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan”.

(HR. Ibnu Majah No. 3950)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

www.rumaysho.com
______________________
📌 Kita sama-sama peduli dengan dakwah utama dan prioritas, yaitu tauhid dan aqidah. Anda bisa ikut aktif, caranya ketika mendapatkan tulisan ini, bagikan kembali di sosial media yang Anda punya dan seterusnya sehingga dakwah tauhid tersebar.

📲 Daftar Broadcast “Indonesia Bertauhid”
Instagram : iTauhid.com/instagram
WhatsApp : iTauhid.com/whatsapp
Facebook : iTauhid.com/facebook
Telegram : iTauhid.com/telegram
Twitter : iTauhid.com/twitter
LINE : iTauhid.com/line
BBM : iTauhid.com/bbm
______________________
 Silakan disebarluaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here