Miskin Tetapi Kaya

0
30

MISKIN TETAPI KAYA

Imam asy-Syafi‘i -rahimahullah- berkata,

“Jika Engkau memiliki hati yang selalu qona‘ah, maka sesungguhnya Engkau sama seperti raja dunia”.

Para pembaca yang budiman, qana‘ah dalam bahasa kita adalah “nerimo” dengan apa yang ada. Yaitu sifat menerima semua keputusan Allah. Jika kita senantiasa merasa menerima dengan apa yang Allah tentukan untuk kita, bahkan kita senantiasa merasa cukup, maka sesungguhnya apa bedanya kita dengan raja dunia?

Kepuasan yang diperoleh sang raja dengan banyaknya harta juga kita peroleh dengan harta yang sedikit, akan tetapi dengan hati yang qana‘ah.

al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- pernah berkata,

“Sesungguhnya di antara lemahnya imanmu, Engkau lebih percaya kepada harta yang ada di tanganmu daripada apa yang ada di sisi Allah”.

(lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam [2/147])

Orang yang qana‘ah tidak terpedaya dengan harta dunia yang mengkilau dan ia tidak hasad kepada orang-orang yang telah diberikan Allah harta yang berlimpah.

Ia qana‘ah, ia menerima semua keputusan dan ketetapan Allah. Bagaimana orang yang sifatnya seperti ini tidak akan bahagia?!

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Bukanlah kekayaan diukur dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati)”.

(HR. al-Bukhari No. 6446 dan Muslim No. 1051)

Ibnu Baththal -rahimahullah- berkata,

“Karena banyak orang yang dilapangkan hartanya oleh Allah ternyata jiwanya miskin, ia tidak menerima dengan apa yang Allah berikan kepadanya, maka ia senantiasa berusaha untuk mencari tambahan harta, ia tidak peduli dari mana harta tersebut, maka seakan-akan ia adalah orang yang kekurangan harta karena semangatnya dan tamaknya untuk mengumpul-ngumpulkan harta.

Sesungguhnya hakikat kekayaan adalah kayanya jiwa, yaitu jiwa seseorang yang merasa cukup (nerimo) dengan sedikit harta dan tidak bersemangat untuk menambah-nambah hartanya, dan nafsu dalam mencari harta. Maka seakan-akan ia adalah seorang yang kaya dan selalu mendapatkan harta”.

(lihat Syarh Ibnu Baththal terhadap Shahih al-Bukhari)

www.muslim.or.id
______________________
📌 Kita sama-sama peduli dengan dakwah utama dan prioritas, yaitu tauhid dan aqidah. Anda bisa ikut aktif, caranya ketika mendapatkan tulisan ini, bagikan kembali di sosial media yang Anda punya dan seterusnya sehingga dakwah tauhid tersebar.

📲 Daftar Broadcast “Indonesia Bertauhid”
Twitter & FB : @indonesiatauhid
Instagram : @indonesiabertauhidofficial
BBM : D0842CB0
Line : http://bit.ly/AkunLineIB
Telegram : @indonesiatauhid
WhatsApp : 0896-3833-9444
______________________
 Silakan disebarluaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here