Cukupkah Seorang Muslim Mengakui Allah adalah Tuhanku?

0
107
Cukupkah Seorang Muslim Mengakui Allah adalah Tuhanku?

Seorang muslim yang beriman kepada Allah pasti mengakui bahwasanya Allah adalah Tuhannya, Allah adalah Sang Pencipta satu-satunya. Semua muslim pasti memiliki keyakinan seperti ini. Namun sayangnya, ini bukanlah hal yang membedakan seorang muslim dengan seorang musyrik kafir. Ya, karena sesungguhnya kaum musyrikin yang didakwahi oleh Nabi juga mengakui hal ini.

Allah berfirman,

مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. Yunus: 31)

Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada kita, bahwasanya kaum musyrikin juga mengimani Allah adalah Tuhan Sang Pencipta. Akan tetapi mengapa Nabi tetap mendakwahi mereka? Memerangi mereka?

Allah berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus : 18)

Ya, tidaklah cukup seseorang mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya akan tetapi ia tidak beribadah kepada-Nya, atau ia mengakui Allah adalah Penciptanya namun ia beribadah kepada Allah, di samping itu ia juga beribadah kepada selain-Nya. Bahkan inilah hakikat kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Kesyirikan merupakan penyimpangan dari tujuan hidup seorang manusia. Allah telah menjelaskan kepada kita bahwasanya tujuan hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Seluruh ibadah kita harus ditujukan kepada Allah semata, sebagaimana Firman-Nya yang senantiasa kita ulang-ulang minimal 17 kali dalam sehari di sholat kita,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 5)

Dan juga sebagaimana Firman-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am : 162)

Sayang beribu sayang, banyak umat Islam sekarang yang tidak memahami hal ini. Mereka mengira sudah berislam dengan benar ketika mereka sudah sholat, puasa, zakat, haji. Namun bersamaan dengan itu mereka juga melakukan berbagai macam praktek kesyirikan. Entah itu berdoa kepada para wali, bernadzar ke para wali, menyembelih untuk jin, pergi ke dukun dan lainnya. Padahal Allah berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar : 65)

Lihatlah ayat ini, begitu besarnya dosa kesyirikan sampai-sampai Allah mengancam akan menghapuskan pahala ibadah Para Nabi seandainya mereka melakukan kesyirikan, padahal Para Nabi adalah manusia yang paling bersih dari kesyirikan. Bagaimana dengan selain mereka?

Ketahuilah, sebanyak apapun ibadah seseorang apabila ibadah tersebut tercampuri dengan praktek kesyirikan, maka segala pahala ibadah tersebut akan terhapuskan, musnah sia-sia. Sungguh ini merupakan suatu hal yang sangat merugikan, bersusah payah beramal sholeh, namun ternyata semua terhapuskan gara-gara kesyirikan.

Yang lebih mengerikan lagi, orang yang berbuat syirik tidak hanya terhapuskan amalannya, namun Allah juga tidak akan mengampuni dosa kesyirikan tersebut apabila seseorang tidak bertaubat dari dosa kesyirikan ini.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa : 48)

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk belajar tentang tauhid untuk diamalkan dan mengetahui tentang kesyirikan untuk kita hindari agar jangan sampai segala ibadah yang telah kita lakukan ini menjadi sia-sia.

Wallahu A’lam Bishshowwab.

Penyusun : Ustaz Boris Tanesia
Artikel : IndonesiaBertauhid.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here