Manusia Bebas Memilih Iman dan Kufur?

0
81

Allah ta’ala berfirman,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al Kahfi : 29)

Sebagian orang menggunakan ayat ini sebagai dalil bolehnya memilih antara Islam dan kekufuran. Bahwa manusia merdeka untuk menentukan keberagamaannya tanpa ada sanksi, dia bebas memilih salah satu di antara keduanya karena adanya pilihan yang tersebut dalam ayat di atas!

Pada hakikatnya, pemahaman tadi tidaklah menggambarkan makna ayat di atas dan juga tidak sejalan dengan redaksi ayat. Ayat di atas bukanlah menunjukkan seseorang boleh memilih antara Islam dan kekufuran, namun ayat tersebut menunjukkan tidak adanya pemaksaan untuk memeluk Islam.

Ayat itu sekaligus menunjukkan bahwa manusia dianugerahi kemampuan untuk memilih. Apabila dia memilih jalan keimanan, sungguh dia telah memilih jalan keselamatan dan keberuntungan. Sebaliknya, jika dia memilih jalan kekufuran, sungguh dia telah memilih jalan kesengsaraan dan kebinasaan. Oleh karena itu, “pilihan” yang terdapat dalam ayat di atas diiringi dengan ancaman dan peringatan bagi mereka yang memilih jalan kekufuran.

Dengan dmeikian, ayat di atas juga merupakan ayat yang berisi ancaman dan peringatan bagi orang yang memilih jalan kekufuran. Hal ini seperti ayat yang lain dalam al-Quran, yang menyebutkan lafadz semisal firman Allah ta’ala,

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ

“Maka sembahlah olehmu hai orang-orang musyrik apa yang kamu kehendaki selain Allah…” (QS. Az Zumar : 15)

Dan firman Allah ta’ala,

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ

“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki” (QS. Fushshilah: 40)

Maksudnya silakan sembah apa pun selain Allah dan perbuatlah apa yang kalian kehendaki, tapi ingat, kalian akan dihisab atas perbuatan tersebut.

Karena itulah ayat di atas dipergunakan sebagai dalil untuk mematahkan pendapat sekte Jabbariyah yang menyatakan bahwa manusia “dipaksa” dalam setiap perbuatannya. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia juga memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih, dia pun akan dihisab atas hal tersebut.

Demikian itulah makna yang dikemukakan mayoritas ahli tafsir untuk ayat ini.

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan,

هذا على طريق التهديد والوعيد كقوله: {اعملوا ما شئتم}

“Redaksi ayat ini (al-Kahfi: 29) bermakna ancaman dan peringatan sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki…” (QS. Fushshilat: 40).” (Ma’alim at-Tanzil)

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

وليس هذا بترخيص وتخيير بين الإيمان والكفر ، وإنما هو وعيد وتهديد، أي إن كفرتم فقد أعد لكم النار، وإن آمنتم فلكم الجنة

“Hal ini bukan berarti memberikan dispensasi atau alternatif antara keimanan dan kekufuran. Tapi firman Allah ini mengandung ancaman dan peringatan, yang berarti jika anda kufur, niscaya neraka tersedia bagimu. Dan jika anda beriman, niscaya surga diperuntukkan bagimu.” (Jami’ li Ahkam al-Quran)

asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan,

المراد من الآية الكريمة ليس هو التخيير ، وإنما المراد بها التهديد والتخويف.
والتهديد بمثل هذه الصيغة -التي ظاهرها التخيير- أسلوب من أساليب اللغة العربية.
والدليل من القرآن العظيم على أن المراد في الآية التهديد والتخويف أنه أتبع ذلك بقوله: {إنا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها وإن يستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا}، وهذا أصرح دليل على أن المراد التهديد والتخويف، إذ لو كان التخيير على بابه لما توعد فاعل أحد الطرفين المخير بينهما بهذا العذاب الأليم، وهذا واضح كما ترى

“Makna ayat yang mulia ini bukanlah memberikan alternatif pilihan, namun untuk memberikan ancaman dan peringatan. Ancaman yang terdapat dalam redaksi kalimat yang secara lahiriah memberikan pilihan adalah salah satu gaya bahasa dalam Bahasa Arab.

Dalil yang menunjukkan bahwa kandungan ayat tersebut berupa ancaman dan peringatan adalah firman Allah selanjutnya (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Hal ini merupakan dalil tegas bahwa maksud ayat tersebut adalah ancaman dan peringatan, karena jika benar yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah pemberian alternatif untuk bebas memilih antara keimanan dan kekufuran, niscaya tidak akan ada ancaman siksa yang pedih yang ditujukan kepada salah satu pihak dikarenakan pilihannya. Anda dapat melihat hal ini dengan jelas.” (Ahdwa al-Bayan)

Penyusun : Ustaz Muhammad Nur Ichwan Muslim, S.T.
Artikel : IndonesiaBertauhid.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here