Ragam Taufik Allah kepada Hamba – Bagian 1

0
79

Derajat taufik tertinggi yang diberikan kepada hamba adalah ketika Allah menjadikan engkau cinta pada keimanan dan ketaatan; serta menjadikan engkau benci pada kekufuran dan kemaksiatan. Derajat itulah yang diperoleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala mereka pun diuji.

Allah ta’ala berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus…” (QS. Al-Hujurat: 7)

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan,

يخاطب الله جل وعلا عباده المؤمنين، فيقول: لولا توفيقي لكم لما أذعنت نفوسكم للإِيمان، فلم يكن الإِيمان بمشورتكم وتوفيق أَنفسكم، ولكني حببته إليكم وزينته في قلوبكم، وكرهت إليكم ضده الكفر والفسوق

“Allah mengungkapkan kepada para hamba-Nya yang mukmin bahwa kalau bukan karena taufiq-Ku untuk kalian, niscaya jiwa kalian tidak akan tunduk untuk beriman. Di saat itu, iman belum menjadi suatu hal yang menetap dan sesuai dengan jiwa kalian. Akan tetapi, Aku-lah yang telah menjadikan iman kalian cinta pada keimanan dan menjadikannya sesuatu yang indah dalam hati kalian. Dan Aku-lah yang menjadikan hati kalian benci pada kekufuran dan kefasikan.” [Madaarij as-Saalikiin: 1/447].

Taufik datangnya dari Allah

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan,

أجمع العارفون بالله أن التوفيق هو أن لا يكلك الله إلى نفسك، وأن الخذلان هو أن يخلي بينك وبين نفسك

“Alim ulama yang mengenal Allah bersepakat bahwa taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkanmu pada dirimu sendiri. Sementara lawan dari taufik, yaitu al-khudzlaan (ditelantarkan), adalah ketika Allah meninggalkanmu sehingga bergantung pada dirimu endiri.” (Madaarij as-Saalikiin: 1/445)

Dari sinilah kita mengetahui bahwa taufik adalah sesuatu yang hanya diminta kepada Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memberikan selain Dia.

Syu’aib ‘alaihi as-salam mengatakan,

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“…Dan petunjuk (taufik) yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Pengertian itulah yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah sabdanya,

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Doa ketika genting adalah, “Allohumma rahmataka arjuu, fa laa takilniy ilaa nafsi thorfata ‘ainin wa ashlih liy syakni kullihi laa ilaaha illa anta.”

Artinya: Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau menyandarkanku pada diriku sendiri, meski sekejap mata. Perbaikilah seluruh keadaanku, tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi dengan hak kecuali hanya Engkau.” (HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh al-Albani)

Taufik tidaklah identik dengan kekayaan dunia

Sebagian orang meyakini bahwa setiap orang yang diberi rezeki berupa kelebihan harta, jabatan, status sosial dan hal-hal keduniaan lainnya , telah diberi taufik oleh Allah ta’ala. Padahal tidak demikian, karena harta duniawi adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada setiap orang yang beriman maupun yang tidak. Allah memberikannya pada orang yang dicintai dan yang tidak dicintai-Nya.

Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabb-ku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabb-ku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim…” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Karena itulah taufik kepada hamba-Nya adalah:

  • jika dianugerahi jabatan dan status sosial, dia memanfaatkannya untuk meraih ridha Allah ta’ala, membela agama-Nya dan memberi manfaat kepada saudaranya; dan
  • jika diberi rezeki harta, dia memperolehnya dengan cara yang halal untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah ta’ala.

Orang yang diberi taufik adalah jika memperoleh karunia dan anugerah dari Allah, dia akan bersyukur dan menggunakan karunia itu menambah ketaatan kepada Allah. sedangkan orang yang ditelantarkan adalah dia yang tidak memanfaatkan anugerah itu untuk menaati Allah ta’ala, tapi malah berbuat melampaui batas dan mengingkari.

Allah ta’ala berfirman,

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7)

Allah ta’ala berfirman perihal Nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam,

قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Sulaiman berkata, “Ini termasuk karunia Rabb-ku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. An-Naml: 40)

-bersambung-

Penyusun : Ustaz Muhammad Nur Ichwan Muslim, S.T.
Artikel : IndonesiaBertauhid.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here