Semata Mengakui Allah Pencipta Alam Semesta

0
117

Allah Subhana wa Ta’ala adalah Tuhan Pencipta Alam Semesta beserta segala isinya merupakan sebuah hal yang tak terbantahkan. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla membuka Kitab-Nya dengan hal tersebut dalam Firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Tuhan Alam Semesta”. (QS. Al Fatihah [1] : 2)

Kalimat Laa Ilaaha Illah merupakah sebuah kalimat yang mungkin ringan di lisan kita namun berat di Sisi Allah Ta’ala. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ آمُرُكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرْضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَوُضِعَتْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ رَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Sesungguhnya Nabi Allah, Nuh ‘alaihissalam ketika menjelang wafatnya bertutur kepada anaknya, “Sesungguhnya aku berpesan kepadamu sebuah wasiat. Aku memerintahkan 2 hal padamu dan aku pun melarangmu melakukan 2 hal. Aku memerintahkan kepadamu ‘Laa Ilaaha Illallah’. Sesungguhnya Seandainya langit yang 7 lapis demikian pula bumi dengan 7 lapisnya diletakkan pada daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illah diletakkan dalam daun timbangan lainnya. Niscaya Laa Ilaaha Illah lebih berat timbangannya………..”[1].

Demikian luar biasanya kedudukan Laa Illaha Illallah di Sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Kembali mengingat masa lalu, kita pernah diajarkan bahwa makna kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah tiada Tuhan selain Allah. Kemudian jika ditanyakan apakah makna Tuhan pada kalimat tersebut ? Maka banyak jawaban kita dapatkan bahwa makna dari kalimat ini adalah tidak ada Pencipta, Pemilik dan Pengatur Alam Semesta melainkan Allah.

Kata Tuhan di dalam Bahasa Arab berarti Ar Robb. Ibnul Atsir Rohimahullah mengatakan, “Robb digunakan dalam Bahasa Arab pada raja/pemilik, pemimpin, pengatur, pemelihara, yang mengadakan dan pemberi nikmat. Kata Robb yang digunakan tanpa idhofah/ penyandaran tidak boleh digunakan kecuali pada Allah Ta’ala[2]. Misal, Robbul Bait berarti pemilik rumah. Sedangkan jika kata Robb berdiri sendiri tanpa ada penyandaran ‘Robb’ maka tidak boleh digunakan kecuali maksudnya adalah Allah ‘Azza wa Jalla.

Ringkasnya makna Tuhan atau Robb (dalam Bahasa Arabnya) terkait dengan makna Pencipta, Pengatur dan Pemilik Alam Semesta. Jika hanya demikianlah pemahaman kita tentang kalimat Laa Ilaaha Illallah maka sungguh kaum musyrikin di zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam pun mengakuinya. Namun pengakuan mereka itu tidak ternilai, tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ . قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ . قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ

Katakanlah, “Milik siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Maka mereka akan menjawab, “Milik Allah”. Maka apakah kamu tidak ingat. Katakanlah, “Siapakah Robb tujuh lapis langit dan Robb Arsy yang agung?” Maka meka akan mengatakan, “Allah”. Maka apakah kalian tidak bertakwa. Katakanlah siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu dan Dia adalah Dzat yang melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)Nya, jika kamu mengetahui ?” Mereka akan mengatakan, “Allah”. (QS : Al Mu’minun [23] : 84-87 ).

Allah Tabaroka wa Ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah (kepada mereka yang berbuat kemusyirikan kepada Allah) siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan dan menguasai) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS : Yunus [10] : 31).

Lihatlah mereka orang-orang musyrik di Zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahkan menyakini bahwa Tuhan dalam artian Pencipta, Pemilik dan Pengatur Alam Semesta itu hanya Allah Ta’ala. Namun semata pengakuan mereka akan hal ini tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam.

Masih banyak ayat lain yang memiliki makna semisal dengan ayat – ayat di atas, yang intinya menjelaskan kepada kita bahwa, ‘semata-mata pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan, memiliki dan mengatur alam semesta’ belum dapat memasukkan seseorang ke dalam Islam.

Lantas apa makna Laa Ilaaha Illallah ?

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman tentang misi utama para Rosul ‘alaihimussalam dan sekaligus penjelasan makna kalimat Laa Ilaaha Illalah,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Sungguh kami tidaklah mengutus seorang rosul pun sebelummu (Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (makna Laa Ilaaha Illallah –pen) maka beribadahlah (hanya) kepada -Ku”. (QS : Al Anbiya [21] : 25).

Imamnya para ahli tafsir, Ibnu Jarir Ath Thobari Rohimahullah mengatakan, “Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Kami (Allah) tidaklah mengutus seorang rosul pun sebelum engkau wahai Muhammad kepada ummatnya kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan di langit dan di bumi, tidak ada Dzat yang pantas disembah selain Aku (Allah), maka sembahlah Aku, beribadahlah kepada-Ku, ikhlaskanlah ibadah kepada-Ku semata, esakanlah Aku dalam tauhid uluhiyah”.

Kemudian beliau Rohimahullah menutup, “Dan dengan ungkapan-ungkapan semisal yang kami sampaikan inilah para ulama tafsir menafsirkan ayat ini”[3].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illah dan dia mengingkari segala sesuatu yang disembah, diibadahi selain Allah maka harta dan darahnya haram (diambil dan ditumpahkan -pen) sedangkan perhitungan pahalanya di sisi Allah”[4].

Berdasarkan ayat dan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam serta keterangan ulama di atas teranglah bagi kita bahwa makna Laa Illaha Illallah adalah tidak ada Dzat yang berhak dan benar disembah kecuali Allah. Bukan tiada Tuhan selain Allah.

Sampai di sini, jelaslah bagi kita bahwa semata-mata pengakuan, persaksian bahwa tidak ada Dzat yang menciptakan, memiliki dan mengatur alam semesta kecuali Allah bukanlah tafsiran yang diinginkan dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, sebab orang-orang musyrik di zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam pun mengakui dan mengetahuinya. Sehingga Hingga seseorang itu mengetahui, mengikrarkan dan menjalan konsekwensi bahwa satu-satunya Dzat yang layak, benar dan pantas disembah serta diibadahi hanyalah Allah semata.

Allahu a’lam.

Sigambal selepas subuh, 25 Dzulhijjah 1439/ 6 September 2018

Penulis Aditya Budiman bin Usman

  1. HR. Ahmad no. 6583 dan dinyatakan shahih oleh Syu’aib Al Arnauth rahimahullah.
  2. An Nihayah fi Ghoribil Hadits hal 179/I via Fiqh Al Asma Al Husna oleh Syaikh Abdur Rozzaq hal. 98 terbitan Dar Ibnul Jauzi, Riyadh.
  3. Lihat Jami’ Al Bayan Fi Takwilil Qur’an hal. 427/18 terbitan Muasasah Risalah, Beirut, Lebanon.
  4. HR. Muslim no. 23.

Artikel IndonesiaBertauhid.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here