Diantara Keutamaan Tauhid

0
10

Sudah menjadi bagian dari jiwa anak Adam suka dengan suatu keutamaan. Sedapat mungkin setiap kita akan berusaha meraih berbagai hal yang kita anggap memiliki keutamaan atau nilai lebih. Misalnya saja, seorang akan berusaha bangun sepagi mungkin agar dapat mulai mencari nafkah lebih pagi dibandingkan orang lain. Harapannya, dengan semakin awal dia mulai mencari nafkah maka akan semakin besar pula peluang untuk mendapat rezki yang berlebih dibandingkan orang lain.

Dalam Al Qur’an, Allah Subhana wa Ta’ala banyak sekali memotivasi para hamba-Nya untuk melakukan berbagai amalan. Misalnya dalam Firman Allah Subhana wa Ta’ala berikut,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”.

(QS. Ali Imron [3] : 133)

Sebelum ayat di atas, Allah Subhana wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya bermuamalah dengan muamalah ribawi. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla merintahkan mereka untuk bersegera memohon ampunan dengan meninggalkan riba, berusaha menjauhi neraka dengan ta’at kepada aturan Allah dan Rosul-Nya Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Allah melarang riba dan memerintahkan mereka untuk ta’at kepada-Nya dan Rosul-Nya Shollallahu ‘alaihi wa sallam, Dia pun memotivasi mereka jika mereka bersegera berusaha meraih ampunan maka surga yang lebarnya seluas langit dan bumi pun telah menanti.

Di satu sisi lainnya, belakangan pelajaran tauhid mulai ‘kurang’ diminati kaum muslimin. Kajian yang membahas tentang tauhid peserta yang hadir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tema cinta, keluarga, cara mendidik anak dan seterusnya. Untuk itu kami melalui tulisan ringkas ini berusaha untuk memotivasi kita agar kembali menyadari bahwa tauhid itu sesuatu yang harus senantiasa kembali dipelajari, diulang-ulang, didakwahkan dan diamalkan.

Diantara keutamaan tauhid adalah :

  1. Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mentauhidkan-Ku”.

(QS. Adz Dzariyat [51] : 56)

Jika kita mau merenungkan ayat ini, sungguh telah cukup memotivasi kita bahwa tujuan utama kita ada di dunia ini adalah untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

  1. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Nabi dan Rosul ‘alaihimussalam

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah dan dia ridho)”. (QS. An Nahl [16] : 36)

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan, “Awal dari dakwah para Nabi dan Rosul adalah mengajak untuk menyembah Allah, menyeru kepada tauhid. Karena tauhid adalah pondasinya agama. Sebab agama ini mirip dengan pohon. Sebagaimana sudah diketahui bersama bahwa pohon itu punya batang dan cabang. Tidak akan tegak suatu pohon kecuali tegak di atas batangnya. Demikian pula dengan agama. Agama tidak akan tegak kecuali di atas pondasinya yaitu tauhid”[1].

  1. Tauhid adalah kewajiban pertama seseorang

Seorang yang sudah terbebani kewajiban dalam syari’at disebut mukallaf. Kewajiban pertama dan utama seorang mukallaf adalah mentauhidkan Allah. Dalilnya sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Rodhiyallahu ‘anhu ketika beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya berdakwah ke Yaman.

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Sesungguhnya engkau akan bertemu dengan sebuah kaum dari kalangan ahli kitab. Maka hendaklah yang pertama sekali engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla semata”[2].

  1. Tauhid merupakan sebab terciptanya rasa aman dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka itulah yang mendapat rasa aman dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al An’am [6] : 82)

Allah Subhana wa Ta’ala juga berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS. Al Quroisy [106] : 3-4)

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan, “Rasa aman itu berada di Tangan Allah, dan Allah tidak akan berikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan benar-benar mengikhlaskan ibadah/agama mereka hanya kepada Allah semata”[3].

  1. Tauhid itu sesuai dengan fithrah manusia

Agama Tauhid adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu”. (QS. Ar Rum [30] : 30)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak yang terlahir melainkan dia terlahir di atas fithroh (tauhid). Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi”[4].

  1. Mendapatkan garansi tidak kekal di neraka

Allah Subhana wa Ta’ala tidak akan menjadikan orang-orang yang benar-benar bertauhid kekal di neraka. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فإنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ : لا إلهَ إلاَّ الله يَبْتَغِي بذَلِكَ وَجْهَ الله

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi neraka siapa saja yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (bertauhid) yang dengannya dia berharap wajah Allah”[5].

  1. Berpeluang mendapatkan ampunan Allah atas berbagai dosa kepada-Nya

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ عَمِلْتَ قِرَابَ الْأَرْضِ خَطَايَا وَلَمْ تُشْرِكْ بِي شَيْئًا جَعَلْتُ لَكَ قُرَابَ الْأَرْضِ مَغْفِرَةً

“Wahai anak keturunan Adam, sekiranya engkau berbuat dosa sepenuh bumi namun engkau tidak menyekutukan-Ku dengan suatu apapun, maka Aku akan jadikan ampunan kepadamu sepenuh bumi”[6].

Mudah-mudah dapat menguatkan hati kita untuk tidak pernah keyang mempelajari dan merealisasikan tauhid dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

Penyusun: Aditya Budiman bin Usman
Artikel: IndonesiaBertauhid.Com

  1. Lihat Min Ma’alimut Tauhid hal. 7.

  2. HR. Bukhori no. 1458 dan Muslim no. 19.

  3. Lihat Min Ma’alimut Tauhid hal. 9.

  4. HR. Bukhori no. 6599, Muslim no. 2658.

  5. HR. Bukhori no. 425, Muslim no. 263.

  6. HR. Tirmidzi no. 3540 dan Ahmad no. 21311. Hadits ini dinilai sesuai syarat Bukhori dan Muslim oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here