Ragam Taufik Allah kepada Hamba – Bagian 2

0
234

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Allah telah menciptakan makhluk untuk menaati dan menyembah-Nya, karena hak terbesar Allah ta’ala adalah hamba menyembah-Nya semata dan tidak menjadikan sesuatu apa pun sebagai tandingan-Nya. Dan nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan petunjuk kepadanya untuk memeluk Islam, memudahkannya untuk hidup di tengah-tengah kaum muslimin, dan menikmati indahnya hukum dan syari’at agama.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Salah satu cara pandang yang keliru dan kerap terjadi adalah anggapan sebagian orang bahwa ketika pintu-pintu kesenangan dunia dibukakan untuknya, meski agama dan akhirat terkorbankan, merupakan pertanda Allah menganugerahkan taufik kepada dirinya. Hal itu tidaklah tepta, karena setiap orang yang merenungkan kandungan al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui tanda-tanda taufik Allah kepada hamba-Nya. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:

1. Hamba diberikan taufik sehingga bisa melakukan berbagai amal shalih dengan berbagai ragamnya, baik dalam bentuk fisik, harta, atau ucapan. Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa kesuksesan yang besar dapat dicapai dengan menaati-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab: 71].

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba maka Allah memperkerjakannya Beliau ditanya tentang maksudnya. Lalu beliau bersabda,

يُفْتَحُ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ بَيْنَ يَدَيْ مَوْتِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ مَنْ حَوْلَهُ

“Amal shalih dibukakan untuknya menjelang wafat, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepada dirinya.” [Shahih. HR. At-Tirmidzi].

Dari Abu Bakrah, dari ayahnya, bahwasanya seorang pria bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Beliau menjawab,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Manusia terbaik adalah yang berumur panjang dan bagus amalnya.” Pria itu bertanya kembali, “Dan siapakah manusia terburuk?” Beliau menjawab,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Manusia terburuk adalah yang berumur panjang, namun buruk amalnya.” [Shahih. HR. Ahmad].

2. Hamba diberikan taufik sehingga bisa menuntut ilmu agama dan mendalami agama Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya dia akan dipahamkan dalam masalah agama.” [HR. Al-Bukhari].

3. Hamba diberikan taufik sehingga turut berpartisipasi dalam mendakwahi manusia kepada agama Allah dan jalan-jalan kebaikan. Dakwah kepada Allah adalah tugas para Nabi, Rasul, dan hamba-hamba-Nya yang diberi taufik. Cukuplah pujian Allah ta’ala bagi mereka dalam firman-Nya di surat Fushshilat ayat 33 yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan orang yang berdakwah di jalan Allah. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Fushshilat: 33].

4. Hamba diberikan taufik sehingga bisa melakukan taubat yang jujur sesudah bermaksiat, atau Allah ta’ala mencegah diri hamba dari kemaksiatan, sehingga dia tidak melakukannya. Hal ini merupakan taufik, perlindungan, dan kebaikan yang dikehendaki Allah bagi hamba-Nya, karena Allah ta’ala cinta akan taubat yang dilakukan hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” [An-Nisa: 27].

Cukuplah firman-firman Allah ta’ala berikut yang menggambarkan keutamaan bertaubat,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“…kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” [Maryam: 60].

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” [Thaha: 82].

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“…kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Furqan: 70].

Setiap orang yang telah berkeinginan melakukan kemaksiatan dan dosa, di mana berbagai faktor dan kondisi telah mendukung, namun dirinya dihalangi untuk bermaksiat, hendaknya bersyukur kepada Allah atas hal tersebut, karena sesungguhnya Allah ta’ala menginginkan kebaikan untuknya. Hal ini seperti yang difirmankan Allah perihal Nabi Yusuf ‘alaihi as-salam,

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” [Yusuf: 24].

5. Hamba diberikan taufik sehingga bisa memberikan bantuan dan manfaat; serta menunaikan kebutuhan dan menggembirakan mereka. Hal ini seperti aktivitas mengasuh anak yatim, janda, dan kaum fakir miskin.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata : “Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai oleh Allah?. Dan amal apa yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari kelaparan.” [HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir].

Dari Raafi’ bin Khadij radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

الْعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ كَالْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ

“Amil zakat yang benar seperti orang yang berjihad di jalan Allah hingga dia kembali ke rumahnya.” [HR. Abu Dawud].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganalogikan amil zakat, baik yang memungut atau pun yang mendistribusikan zakat, serupa dnegan mujahid di jalan Allah, selama memenuhi dua syarat, yaitu melakukan tugasnya dengan benar dan ikhlas mengharap Wajah Allah.

6. Hamba diberikan taufik sehingga bisa memfokuskan perhatiannya pada kitabullah, al-Quran al-Karim, baik dengan mempelajari ataupun mengajarkannya.

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari].,eng

Ahli al-Quran adalah orang-orang yang dekat dan istimewa di sisi Allah, maka betapa beruntungnya orang yang belajar dan mengajarkan al-Quran; serta menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya.

7. Hamba diberikan taufik sehingga bisa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar yang menjadi kriteria umat terbaik. Allah ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran: 110].

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.} [Ali Imran: 104].

8. Hamba diberikan taufik sehingga bisa memiliki karakter dan akhlak yang mulia; berhati lapang dan menginginkan kebaikan bagi setiap kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا

‘Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya’.” [HR. al-Bukhari].

Dari Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada suatu amal yang beratnya melebihi akhlak yang baik ketika ditimbang di Mizan.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi].

Adapun hati yang selamat dari penyakit-penyakit hati seperti riya, dendam, dan dengki kepada orang lain adalah sebab seseorang bisa masuk ke dalam surga dan merupakan tanda keimanan yang sempurna seperti tercantum dalam hadits,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ – أَوْ قَالَ لِأَخِيْهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Demi Dzat yang aku dalam genggamannya, belum beriman (dengan sempurna) seorang hamba, hingga ia mencintai tetangganya – atau beliau mengatakan saudaranya –  seperti ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Muslim].

9. Hamba diberikan taufik sehingga bisa bersikap baik kepada anggota keluarganya. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأهْلِهِ، وأنا خَيْرُكُم لأهْلي.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap istriku.” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Seorang yang memenuhi kebutuhan keluarganya dan memprioritaskan mereka sebelum sahabat dan koleganya, sungguh dia telah diberi taufik, karena keluarga adalah pihak yang lebih berhak dan paling utama untuk dipenuhi kebutuhannya ketimbang orang lain.

10. Hamba diberikan taufik sehingga dijauhkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat, tidak mengikuti desas-desus omongan manusia, atau seperti kabar yang viral di medsos dan tidak terjun dalam perkara yang bukan menjadi bidang kompetensinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” [HR. at-Tirmidzi].

Zaid bin Aslam radhiallahu ‘anhu mengatakan:

دُخِلَ عَلَى أَبِي دُجَاَنَةَ رضي الله عنه وَهُوَ مَرِيضٌ – وَكَانَ وَجْهُهُ يَتَهَلَّلُ – فَقِيلَ لَهُ: مَا لِوَجْهِكَ يَتَهَلَّلُ؟ فَقَالَ: مَا مِنْ عَمَلِي شَيْءٌ أَوْثَقُ عِنْدِي مِنَ اثْنَتَيْنِ : كُنْتُ لَا أَتَكَلَّمُ فِيمَا لَا يَعْنِينِي ، وَالْأُخْرَى فَكَانَ قَلْبِي لِلْمُسْلِمِينَ سَلِيمَا

“Saya masuk ke rumah Abu Dujanah radhiallahu’anhu ketika ia sedang sakit (namun ketika itu wajahnya penuh rasa bahagia). Ada yang bertanya kepadanya, ‘Mengapa wajah anda begitu gembira?’. Abu Dujana berkata, ‘Tidak ada amalan yang kuandalkan melainkan dua amalanku, yaitu (a) aku tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat; dan (b) hatiku bersih, tidak mendengki dan dendam terhadap sesama muslim’” [Siyar A’laam an-Nabaala].

11. Hamba diberikan taufik sehingga memperoleh ilham agar konsisten dan benar dalam setiap ucapan, tindakan, dan sikapnya. Itulah hikmah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” [Al-baqarah: 269].

12. Hamba diberikan taufik sehingga dimudahkan untuk berjihad dan memperoleh syahadah (mati syahid) di jalan Allah, yang merupakan salah satu ibadah yang utama dan kedudukan yang tertinggi. Allah ta’ala berfirman,

وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” [an-Nisa: 95].

Allah ta’ala menjadikan syuhada itu sebagai orang-orang pilihan. Allah ta’ala berfirman,

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’.” [Ali Imran: 140].

Penutup

Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Itulah sebagian tanda-tanda taufik yang diberikan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Maka mohonlah kepada Allah ta’ala agar memberikan taufik-Nya kepada kita agar mampu melakukan segala aktivitas yang dicintai dan diridhai-Nya; agar memberikan petunjuk kepada kita sehingga mampu berucap, beramal, dan berakhlak yang terbaik; serta diwafatkan dalam kondisi itu.

Penyusun : Ustaz Muhammad Nur Ichwan Muslim, S.T.
Artikel : IndonesiaBertauhid.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here